Jumat, 11 Maret 2011

Berita : Pendidikan Tak Padu dengan Dunia Kerja

Riset yang dilakukan Kemdiknas sejak September 2010 dan kini memasuki tahap riset kwalitatif , dan hasilnya sudah dapat diketahui, terjadi ketidak paduan antara dunia usaha dan pendidikan.
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyelenggarakan penelitian keterpaduan pendidikan tinggi bekerjsama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta (PTN/PTS) di sejumlah daerah. Terungkap, terjadi ketidak paduan antara dunia usaha dan pendidikan.
Si sarjana tidak puas karena gaji tidak cukup besar, sebab yang dikerjakan memang jenis pekerjaan luusan SMA. --- Suyono
Koordinator penelitian untuk wilayah Malang (Jawa Timur) Aldon Sinaga mendapati, riset yang dilakukan sejak September 2010 dan kini memasuki tahap riset kwalitatif , dan hasilnya sudah dapat diketahui, terjadi ketidak paduan antara dunia usaha dan pendidikan.

Ini bermula dari keyakinan pemerintah, bahwa pemerintah telah menyelenggarakan penelitian ilmiah, yang pada akhirnya hasilnya hendak ditujukan dikonsumsikan pada dunia usaha. Dukungan dalam bentuk dana-dana penelitian itu tujuannya agar pada akhirnya bisa dinikmati hasilnya dalam bentuk penguasaan teknologi, melalui kompetensi (keterampilan) karyawan baru hasil pendidikan perguruan tinggi terkait," kata Aldon.

Jadi, lanjut dia, diseminasi hasil dan dukungan penelitian tidak diberikan langsung pada dunia usaha, melainkan lewat hasil pendidikan.
"Namun pertanyaannya, apakah hasil pendidikan tinggi terkait dengan dunia usaha, atau tidak," ungkap Aldon di Malang, Kamis (10/3/2011).

Menurut Aldon, tim risetnya menemukan ketidakselarasan itu. Ada lowongan pekerjaan yang diantri oleh ribuan pelamar, juga ada lowongan kerja yang sama sekali tidak berhasil mendapat pelamar.

Banting stir

Namun, kendati belum mengungkapkan detil kwantitatif karena risetnya masih dalam proses, ia mengungkapkan ditutupnya SMK Peternakan, yang semula bernama SNAKMA (Sekolah Peternakan Menengah Atas) di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Terungkap, bahwa kebutuhan tenaga kerja di lingkungan koperasi susu dan peternakan sapi perah, masih cukup tinggi.

"Malang sampai sekarang bersama Pasuruan masih merupakan sentra sapi perah penting bagi industri pengolah susu. Ada tiga koperasi besar susu sapi perah. Jika diasumsikan masing-masing beranggotakan 500 anggota, dan setiap anggota memiliki enam ekor, ada 3.000 ekor sapi tiap koperasi atau 9.000 ekor sapi di tiga koperasi. Ada lebih banyak lagi koperasi susu, yang memerlukan tenaga lulusan Snakma," katanya.
Suyono, pengurus Koperasi Susu SAE Pujon, Kabupaten Malang mengungkapkan ketidakpuasan atas kinerja sarjana peternakan. Sebaliknya, ia juga mengungkapkan ketidakpuasan yang dialami sarjana peternakan yang bekerja di lembaganya.

"Ini karena sebenarnya kami hanya memerlukan alumni SMA Peternakan atau Diploma, namun yang melamar sarjana peternakan. Si sarjana tidak puas karena gaji tidak cukup besar, sebab yang dikerjakan memang jenis pekerjaan luusan SMA," ungkap Suyono, yang menghadiri acara Focus Group Discussion (FGD) oleh Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, Kamis (10/3/2011).

Saat ini menurut versi pemerintah, kata Aldon, ada 9 juta penganggur terbuka, yang sebanyak 14 persen di antaranya adalah alumni pendidikan tinggi setara diploma, dan 17 persen alumni setara sarjana. Penelitian ini menyiratkan adanya kesenjangan antara jumlah lulusan dengan jumlah kebutuhan kerja.

Sumber : Kompas.Com

Bagikan

Jangan lewatkan

Berita : Pendidikan Tak Padu dengan Dunia Kerja
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Silahkan Isi Komentar Anda!
Sebisa mungkin saya akan menanggapi dan membalas komentar, berkunjung ke blog atau situs anda.
NO SPAM, NO SARA! Thanks