Kamis, 01 Juli 2010

News : Tolak Jual Beli Bangku Sekolah

Sekitar 20 aktivis pendidikan yang tergabung dalam Student Crisis Center (SCC) Kota Kediri, Rabu (30/6), melakukan aksi unjuk rasa di halaman gedung Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kediri. Mereka mencurigai adanya praktik jual beli bangku sekolah dalam penerimaan siswa baru tahun ini.

Aksi unjuk rasa dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan ujian masuk Sekolah Menengah Tingkat Atas di sekolah tersebut. Pengujunjuk rasa melakukan orasi dan membagikan selebaran kepada calon orang tua siswa. “Hati-hati penjualan bangku sekolah,” teriak Ketua SCC Rofiq Al Aziz. Para calon orang tua siswa yang berada di sekolah tersebut ikut menyaksikan aksi unjuk rasa.

Kecurigaan adanya praktik jual beli bangku sekolah, menurut Rofiq, dipicu oleh terbitnya Peraturan Wali Kota Kediri Samsul Ashar Nomor 26 tahun 2010 tentang Pedoman Penerimaan Peserta Didik Baru (PPPDB). Dalam peraturan tersebut tertera mekanisme penerimaan siswa yang mengatur tes akademik bagi calon siswa oleh panitia sekolah. Tes itulah yang ditengarai akan memicu praktik jual beli bangku sekolah karena tidak memiliki ukuran normatif yang jelas.

Mereka juga mengecam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kediri yang cenderung mendukung peraturan tersebut. Bahkan lembaga wakil rakyat itu justru mempelopori perubahan mekanisme penerimaan siswa baru yang rawan penyimpangan. “Harusnya DPRD menolak Peraturan Walikota, bukan mendukungnya,” ujar Rofiq pula.

Itu sebabnya SCC mencurigai adanya konspirasi antara pemerintah dan parlemen untuk menyuburkan praktik- praktik kolusi di dunia pendidikan. Sebab sejak awal Dewan Pendidikan Kota Kediri maupun lembaga swadaya masyarakat lainnya menentang peraturan yang dinilai kontroversi tersebut.

Aksi yang hanya berlangsung selama 15 menit ini akhirnya bubar setelah puluhan anggota Kepolisian Resor Kota Kediri tiba di lokasi unjuk rasa.

Anggota Dewan Pendidikan Kota Kediri Syamsul Umam menyatakan dukungannya terhadap aksi unjuk rasa tersebut. Menurut dia penerimaan siswa baru tahun ini memang rawan penyimpangan. Bahkan Syamsul menengarai adanya indikasi kecurangan dalam pelaksanaan ujian masuk di 16 sekolah hari ini. “Pengawasan dan pelaksanaan ujian dilakukan masing-masing sekolah, siapa yang menjamin kejujurannya,” tuturnya.

Hari ini ribuan calon siswa SMA memperebutkan bangku sekolah yang diidamkan. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya menggunakan nilai ujian nasional (NUN), kali ini mereka harus mengikuti ujian yang dilakukan di sekolah masing-masing. Materi yang diujikan adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan Psikologi. Mereka harus menjawab 110 pertanyaan dengan model pilihan ganda. HARI TRI WASONO.

sumber : tempointeraktif.com 


Bagikan

Jangan lewatkan

News : Tolak Jual Beli Bangku Sekolah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Silahkan Isi Komentar Anda!
Sebisa mungkin saya akan menanggapi dan membalas komentar, berkunjung ke blog atau situs anda.
NO SPAM, NO SARA! Thanks